Bagaimana Mengelakkan Anak Dari Bahaya Ain?

penyakit ain dalam islam

Kenikmatan adalah satu perkara yang sangat diinginkan oleh setiap orang. Dan setiap kenikmatan yang dikurniakan oleh Allah kepada kita juga adalah merupakan satu ujian.

Salah satu dari banyak-banyak nikmat dari Allah kepada pasangan suami isteri adalah dengan kehadiran cahaya mata yang menjadi pelengkap di dalam sebuah rumahtangga.

Apabila telah lahir seorang bayi, kebiasaannya tubuh badan dan wajahnya yang comel sangat menarik perhatian orang untuk memandang, memanjakan, menyentuhnya.

Dan apabila bayi tersebut semakin membesar menjadi kanak-kanak, segala tingkahlakunya pula tetap menjadi dan menarik perhatian orang.

Oleh kerana itulah, kita perlu mengetahui dan sentiasa ingat akan pesan Nabi SAW yang bermaksud, “Setiap yang memiliki kenikmatan, pasti ada yang dengki”. (Sahihul Jami’ 223).

Perlulah menjadi perhatian kepada ibubapa bahawa di dalam syariat Islam telah dijelaskan kepada kita bahawa adanya bahaya ain yang berpunca dari pandangan mata, terutamanya bagi kanak-kanak.

Pandangan mata yang merbahaya ini datangnya dengan sebab kedengkian orang yang memandang atau kerana kekaguman mereka terhadap apa yang dipandang.

Bahaya Ain

Ibnu Qayyim Rahimahullah di dalam kitab Tafsir Surah Al-Muawwizatain telah berkata, “Bahaya dari pandangan mata dapat terjadi ketika seseorang yang berhadapan langsung dengan sasarannya.

Sasaran tukang pandang kadang-kadang boleh mengenai sesuatu yang tidak patut didengki, seperti benda, haiwan, tanaman dan harta.

Dan kadang-kadang pandangan matanya dapat mengenai sasaran hanya dengan pandangan tajam dan pandangan kekaguman.”

Pengaruh dari bahaya pandangan mata pun hampir mengenai Rasulullah SAW sebagaimana firmannya:

“Dan sesungguhnya orang-orang yang kafir itu hampir-hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al-Quran dan mereka mengatakan, “sesungguhnya dia (muhammad) benar-benar gila” (Surah al-Qalam ayat 51)

Terdapat juga hadis dari Ibnu Abbas bahawasanya Rasulullah SAW telah bersabda

“Pengaruh ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang boleh mendahului takdir, ainlah yang dapat melakukannya” (HR Muslim)

Subhanallah, lihatlah bagaimana bahaya ain telah dijelaskan di dalam Al-Quran dan juga As-Sunnah. Dan terdapat pula contoh-contoh pengaruh buruk ain yang terjadi pada masa sahabat.

Salah satunya adalah apa yang pernah terjadi kepada Sahl bin Hunaif yang telah terkena ain bukan disebabkan hasad dengki, tetapi kerana rasa takjub. Sebagaimana yang diceritakan di dalam hadis:

Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif menyebutkan bahwa Amir bin Rabi’ah pernah melihat Sahl bin Hunaif mandi lalu berkatalah Amir, “Demi Allah, Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini.” Berkata Abu Umamah, “Maka terpelantinglah Sahl.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata, “Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah untuknya!” Maksudnya Nabi menyuruh Amir berwudhu kemudian diambil bekas air wudhunya untuk disiramkan kepada Sahl dan ini adalah salah satu cara pengubatan orang yang terkena ‘ain bila diketahui pelaku ‘ain tersebut (*). Maka Amir mandi dengan menggunakan satu wadah air. Dia mencuci wajah, kedua tangan, kedua siku, kedua lutut, ujung-ujung kakinya dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia.” (HR. Malik dalam al Muwaththa 2/938, Ibnu Majah 3509, dishahihkan oleh Ibnu Hibban 1424. sanadnya shahih, para perawinya terpercaya, lihat Zaadul Ma’ad tahqiq Syu’aib al Arnauth dan Abdul Qadir al Arnauth 4/150 cet tahun 1424 H. Lihat majalah Al Furqon).

(*) Kata mandi yang dimaksudkan di dalam hadis di atas ialah adalah berwudhu sebagaimana disebutkan oleh Imam Malik di dalam kitab Al-Muwatto.

Tanda-Tanda Terkena Ain

Tanda-tanda anak yang terkena ain diantaranya adalah akan menangis secara tidak wajar. Maksudnya tanpa sebab yang jelas seperti lapar, sakit dan sebagainya, kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mahu menyusu kepada ibunya tanpa sebab yang jelas, atau keadaannya menjadi kurus dan juga tanda-tanda lain yang tidak diketahui sebabnya.

Sebagaimana di dalam hadis dari Amrah dari Aishah radiallahu anha, “Pada suatu ketika Nabi SAW masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba beliau mendengar anak kecil menangis, lalu Baginda berkata:

“Kenapa anak kecilmu ini menangis? Tidakkah kamu mencari orang yang boleh mengubati dia dari penyakit ain?” (Hadis riwayat Ahmad, Baqi Musnadil Anshar. 33304)

Begitu pula hadis Jabir radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Asma’ binti Umais, “Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?” Asma menjawab, “Tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘ain”. Beliau berkata, “Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka!” (HR. Muslim, Ahmad dan Baihaqi)

Berlindung Dari Bahaya Ain

Sesungguhnya syari’at Islam adalah sempurna. Setiap hal yang mendatangkan bahaya bagi umatnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu telah menjelaskan tentang perkara tersebut dan cara-cara untuk mencegahnya. Begitu pula dengan bahaya ‘ain ini.

1. Bagi Seseorang yang Memungkinkan Memberi Pengaruh ‘Ain

Berdasarkan hadis Abu Umamah di atas maka hendaknya seseorang yang mengagumi sesuatu dari saudaranya maka yang baik adalah mendoakan keberkahan baginya. Dan berdasarkan surat Al Kahfi ayat 39, maka ketika takjub akan sesuatu kita juga dapat mengucapkan doa:

مَا شَآءَ اللهُ لاَ قُوَّةَ إلاَّ بِا للهِ

Artinya:

“Sungguh atas kehendak Allah-lah semua ini terwujud.”

2. Bagi yang Memungkinkan Terkena ‘Ain

Sesungguhnya ‘ain terjadi karena ada pandangan. Maka hendaknya orang tua tidak berlebihan dalam membanggakan anaknya karena dapat menimbulkan dengki ataupun kekaguman pada yang mendengar dan kemudian memandang kepada sianak.

Adapun jika memang kenikmatan itu adalah sesuatu yang memang telah nampak baik dari kepintaran sang anak, atau bentuk badan dan rupanya yang masya Allah, maka hendaknya orang tua mendoakan dengan doa-doa, zikir dan ta’awudz yang telah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah surat muawadzatain (surat Annas dan al-Falaq). Ada pula do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانِِ وَ هَامَّةِِ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنِِ لامَّةِِ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk.” (HR. Bukhari dalam kitab Ahaditsul Anbiya’: 3120)

Atau dengan doa,

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَِ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.” (HR. Muslim 6818).

Kemudian, terdapat pula doa yang dibacakan oleh malaikat Jibril alaihissalam ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat gangguan syaitan, yaitu:

بِسْمِ اللهِ أرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءِِ يُؤْذِيْكََ مِن شَرِّ كُلِّ نَفْسِِ وَ عَيْنِ حَاسِدِِ اللهُ يَشْفِيكَ

“Dengan menyebut nama Allah, aku membacakan ruqyah untukmu dari segala sesuatu yang menganggumu dari kejahatan setiap jiwa dan pengaruh ‘ain. Semoga Allah menyembuhkanmu.”

Dan terdapat doa-doa lain yang dapat dibacakan kepada sianak untuk menjaganya dari bahaya ‘ain ataupun menyembuhkannya ketika telah terkena ‘ain. (lihat Hisnul Muslim oleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani atau Ad Du’a min Al Kitab wa As Sunnah yang telah diterjemahkan dengan judul Doa-doa Dan Ruqyah dari Al-Qur’an dan Sunnah oleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani)

Kesalahan-Kesalahan Dalam Penjagaan dari Bahaya ‘Ain atau Sejenisnya

Memang bayi sangat terdedah baik dari bahaya ‘ain ataupun gangguan syaitan lainnya. Terdapat beberapa kesalahan yang biasa terjadi dalam menjaga anak dari gangguan tersebut karena tidak berdasarkan pada dalil syari’at. Diantara kesalahan-kesalahan tersebut adalah:

  1. Meletakkan gunting di bawah bantal bayi dengan keyakinan itu akan menjaganya. Sungguh ini termasuk kesyirikan karena menggantungkan sesuatu pada yang tidak dapat memberi manfaat atau menolak bahaya.
  2. Memakaikan anak dengan azimat, tangkal, mentera dan sebagainya. Ini juga termasuk perbuatan syirik dan hanya akan melemahkan sang anak dan orang tua karena berlindung pada sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perlulah kita selalu ingat, bahawa sekalipun kita mengetahui bahaya ‘ain memiliki pengaruh sangat besar dan berbahaya, namun tidaklah semua dapat terjadi kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita sebagai orang Islam tidaklah berlebihan dalam segala sesuatu.

Termasuk dalam masalah ‘ain ini, maka seseorang tidak boleh berlebihan dengan menganggap semua kejadian buruk berasal dari ‘ain, dan juga tidak boleh seseorang menganggap remeh dengan tidak mempercayai adanya pengaruh ‘ain sama sekali dengan menganggapnya tidak masuk akal.

Ini termasuk pengingkaran terhadap hadis-hadis shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sikap yang terbaik bagi seorang muslim adalah berada di pertengahan, yaitu mempercayai pengaruh buruk ‘ain dengan tidak berlebihan sesuai dengan apa yang dikhabarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Sumber rujukan:

2 Comments on "Bagaimana Mengelakkan Anak Dari Bahaya Ain?"


  1. Assalamualaikum Ustaz… Ada tak buat rawatan perubatan secara jarak jauh untuk Masalah sihir dan gangguan jin. Tq ya.

    Reply

Ada pertanyaan?